INDAHNYA IKON LAYANAN PENGADILAN NEGERI TILAMUTA KELAS II
Ruang Ramah Ibu Dan Anak adalah salah satu layanan andalan Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II, yang mungkin layanan ini hanya satu-satunya dan tidak dimiliki oleh pengadilan-pengadilan lain yang berada di bawah lingkungan Mahkamah Agung.
Sebagai Ikon layanan yang disukai oleh anak-anak untuk tempat bermain, duduk bersantai menikmati merdunya kicauan burung-burung peliharaan, sejuknya gemiricik air kolam ikan koi menambah suasana riang candaan anak menikmati indahnya suasana layanan ruang ramah ibu dan anak.
Kontur ruang ramah ibu dan anak yang bersusun dan letak kolam ikan koi yang berada ditengah-tengah dikelilingi tanaman-tanaman bunga yang cantik dan terawat, tak jarang juga dikunjungi oleh pecinta ikan koi yang berada di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II yang takjub dengan suasananya yang indah dan mengagumi rancangan kolam ikan koi yang memiliki nilai arsitektur tinggi.
Sebagai ikon layanan yang telah banyak dikenal masyarakat tentunya harus dirawat dengan baik, dijaga keindahannya, agar tetap memberikan rasa nyaman, senang, riang terhadap anak-anak yang mengunjungi, begitupun terhadap masyarakat pencari keadilan lainya.
Selama ini pemeliharaan terhadap ruang ramah ibu dan anak tidak hanya dilakukan oleh petugas layanan yang ditunjuk tetapi juga dilakukan oleh segenap Pimpinan dan Aparatur Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II, karena layanan ini bersentuhan dengan anak, untuk kepentingan anak dalam bermain sehingga faktor keamanan anak menjadi kaktor utama dalam layanan ini.
Karena itu, Ketua Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II Bapak Hasanudin, S.H.,M.H., Wakil Ketua Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II Bapak Lalu Moh. Sandi Iramaya, S.H., para Hakim dan Aparatur Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II, membentuk jadwal khusus untuk membersihkan dan merawat ruang ramah ibu dan anak yang masing-masing mempunyai peranan tanpa kecuali sebagai bentuk tanggung tanggung jawab bersama dan rasa memiliki terhadap ruang ramah ibu dan anak. Jadwal pertama untuk membersihkan dan merawat ruang ramah ibu dan anak dilaksanakan oleh kepaniteraan yang dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 11 November 2016, tampak semangat kepaniteraan bersama Bapak Hasanudin, S.H.,M.H., memindahkan terlebih dahulu ikan koi ke kolam penampungan kemudian membersihkan kolam ikan koi, menyikat lumut-lumut dilantai dan disamping-samping kolam serta mengurasnya selanjutnya mengisi kembali air ke kolam ikan koi dan melepas kembali ikan koi ke kolam yang sudah lebih bersih dan airnya begitu jernih. Tidak lupa pula membersihkan dan merapikan tanaman bunga yang tumbuh disekitar kolam ikan koi, merapikan rumput jepang yang berada di bagian bawah dan rumput gajah yang berada di bagian atas.
Bapak Hasanudin, S.H.,M.H., menyampaikan ruang ramah ibu dan anak bukan hanya sebagai ikon layanan andalan kita tetapi juga sebagai ruang inspiratif yang memberikan banyak ide-ide yang bermanfaat bukan hanya kepada kita tetapi juga kepada masyarakat pencari keadilan. – Juru bicara Pengadilan Negeri Tilamuta Irwanto, S.H.-
AKUN FACEBOOK ATAS NAMA SYARIFUDDIN SH., MH., PALSU. JANGAN TERTIPU!
Jakarta-Humas: Akun facebook palsu atas nama Pimpinan Mahkamah Agung kembali beredar. Setelah pernah menimpa Ketua Mahkamah Agung dengan akun Hatta Ali, kini kasus yang sama menimpa Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial, Bapak Dr. H.M. Syarifuddin. SH., MH.
Maka sehubungan dengan beredarnya akun facebook palsu tersebut Wakil Ketua Mahkamah Agung Muhammad Syarifuddin menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk mengabaikan akun palsu tersebut agar para pencari keadilan dan warga pengadilan hati-hati dan tidak melayani segala permintaan dari akun tersebut. Mantan Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung itu juga mengatakan akun facebook atas nama Muhammad Syarifuddin adalah palsu dan dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI telah mengirimkan surat kepada Kementrian Komunikasi dan Informasi untuk pemblokiran akun FB palsu tersebut dan akan melaporkan kepada pihak yang berwajib agar dapat ditindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku. (azh/DS)
WAKIL KETUA MAHKAMAH AGUNG BIDANG YUDISIAL PIMPIN UPACARA HARI PAHLAWAN
Jakarta-Humas : Kamis, 10/11/2016, Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Yudisial Dr. H. M. Syarifuddin, SH., MH menjadi Pembina Upacara dalam memperingati hari Pahlawan, yang diikuti oleh pimpinan Mahkamah Agung, HakimAgung, Hakim Ad hoc, Pejabat eselon I, II,Hakim Yustisial, Pejabat Eselon III, IV serta karyawan dan karyawati Mahkamah Agung, juga diikuti oleh Dharmayukti Karini, bertempat dihalaman depan gedung Mahkamah Agung. Tema dari hari Pahlawan kali ini adalah “ SATUKAN LANGKAH UNTUK NEGERI “.
MA Selenggarakan Tes Akhir Lelang Jabatan Calon Sekretaris MA dan Calon Kepala Biro Umum MA
Bogor-Humas. Rabu 9 November 2016. Tepat pada pukul 08.00 WIB. Bertempat di Pusdiklat Mahkamah Agung, Megamendung Ciawi – Bogor, Mahkamah Agung (MA) menyelenggarakan tes akhir bagi para calon Sekretaris MA dan calon Kepala Biro Umum MA. Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial Suwardi, SH., MH (selau Ketua Panitia Seleksi Lelang Jabatan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Mahkamah Agung (JPT MA) memberikan pengarahan kepada para calon Sekretaris MA, dengan di dampingi para penguji antara lain dari Mahkamah Agung Hakim Agung Sunarto, Kementerian Pendayaguanaan Aparatur Negara Yusuf Ateh, Badan Kepegawaian Negara Usman Gumanti, dan Guru Besar Airlangga Prof. Agus Yuda.
Dalam pengarahannya Suwardi sebagai Ketua Panitia Seleksi sekaligus penguji menjelaskan proses lelang jabatan terbuka di Mahkamah Agung mulai dari kelengkapan dokumen administrasi, assesment, makalah dan rekam jejak. Untuk tes akhir ini Mahkamah Agung melibatkan 5 penguji yang terdiri dari Mahkamah Agung Wakil Ketua Mahkamah Agung
Bidang Non Yudisial Suwardi, SH., MH (selau Ketua Panitia Seleksi Lelang Jabatan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Mahkamah Agung (JPT MA) akan menguji tentang kepemimpinan sebagai sekretaris MA, Hakim Agung Sunarto akan menguji tentang Integritas Calon Sekretaris MA, dari Kementerian Pendayaguanaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB) Yusuf Ateh tengang manajemen Reformasi Birokrasi, Badan Kepegawaian Negara (BKN) Usman Gumanti tentang aturan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Kepegawaian, dan terakhir dari akademisi Guru Besar Airlangga Prof. Agus Yuda tentang presentasi makalah dan wawancara.
Para peserta akan di uji satu persatu oleh para penguji tersebut dengan di berikan waktu masing-masing 30 menit. Setelah selesai semua proses seleksi MA akan menyerahkan 3 nama ke istana sebagai Tim Penilai Akhir (TPA). Dalam proses ini MA juga melibatkan KPK dalam hal kejujuran untuk LHKPN dan PPATK terkait laporan Transaksi Keuangan.
Sebanyak 7 Kandidat untuk Jabatan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) berikut nama-nama para calon JPT madya MA.
Calon Sekretaris MA
1. Aco Nur
2. Achmmad Setyo Pudjoharsoyo
3. Budi Santoso
4. Imron Rosyadi
5. Janedjri
6. Pontas Efendi
7. Yasardin
STRATEGI KEPEMIMPINAN MENUJU AKREDITASI
Oleh : HASANUDIN, S.H., M.H.,
Akreditasi standar Indonesia Court Performance Excellence (ICPE) menempatkan kepemimpinan (leadership) sebagai komponen penting yang menentukan penilaian. Score maksimal 200 dari total 1000 akan didapatkan bila leadership dianggap sempurna. Selain leadership masih ada penilaian terhadap strategic planning (score 100), customer focus (score 200), document system (score 100), resource management (score 100), process management (score 200) dan performance result (score 100). Nilai excellent didapatkan bila mencapai score minimal 700.
Leadership akan diaudit pada sesi pertama. Pada sesi tersebut sudah akan tergambar elemen akreditasi lainnya. Bila leadership bagus, maka dapat dipastikan elemen lain juga bagus. Bila leadership minimalis, maka sebaliknya akan terpapar berbagai kelemahan dalam elemen lainnya.
Sistem boleh matang, sumber daya boleh hebat, tetapi tanpa leadership yang baik tidak akan berfungsi maksimal. Lagi pula budaya kita sangat paternalistik, kebapakkan, sehingga organisasi peradilan sangat bergantung kepada siapa yang memimpin. Kepedulian pimpinan berpengaruh besar terhadap kemajuan, kemandegan maupun jatuh bangunnya organisasi.
Pimpinan Sebagai Panutan
Kepemimpinan adalah seni, bukan hard skill yang didapatkan dari perkuliahan, tetapi tumbuh dari pengalaman. Kepemimpinan merupakan soft skill yang terasah selaras dengan pemahaman, kedewasaan dan kematangan jiwa. Suatu style kepemimpinan yang teruji cocok, belum tentu cocok diterapkan di organisasi lain. Sangat kasuisitis, sehingga semestinya seorang pimpinan terlebih dahulu melakukan pemetaan (mapping) terhadap semua potensi sumber daya. Dengan begitu akan diketahui semua kekuatan dan kelemahan sehingga tindakan tepat dapat diambil sesuai karakteristik yang ada.
Pimpinan harus menjadi panutan (role model). Baik dalam hal kapasitas maupun integritas, baik dalam ucapan maupun tindakan. Kata Ki Hadjar Dewantara “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Pimpinan harus menjadi suri tauladhan, bahkan di tengah kesibukan tetap harus membangkitan dan menggugah semangat jajarannya. Pimpinan harus selalu memberikan dorongan moral yang menumbuhkan kreatifitas dan inovasi.
Respek dan hormat akan didapatkan bila pimpinan telah menjadi panutan. Hal itu akan memunculkan sikap kesukarelaan mengikuti pimpinan. Selanjutnya tinggal mengisi ulang (reload) dengan selalu meningkatkan pengaruh. Kata John C. Maxwell “leadership is influence…nothing more, nothing less”.
Apabila ini didapat, langkah mudah melakukan perubahan sudah di depan mata. Visi besar pimpinan dapat segera dilaksanakan.
Butuh Peran Lebih Pimpinan
Sesunguhnya mempelajari makalah-makalah terkait akreditasi cukup membingungkan. Sangat abstrak ditambah dengan istilah-istilah yang tidak familiar sehingga tidak mudah menterjemahkan dan mengaplikasikannya dalam tugas sehari-hari. Sosialisasi belum intens menjangkau daerah-daerah khususnya luar Jawa, sehingga belum tentu dalam satu pengadilan terdapat hakim atau pegawai yang memahami konsep akreditasi.
Harus diakui menerapkan akreditasi standar ICPE tidak segampang menerapkan standar manajemen mutu ISO. Akreditasi ICPE meliputi standar manajemen mutu ISO 9001:2008 yang diperkaya dengan international framework court excellence (IFCE), pelaksanaan reformasi birokrasi, pembangunan zona integritas, standar pengawasan Badan Pengawasan Mahkamah Agung dan standar penilaian Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum tahun 2014.
Peran pimpinan sangat penting. Untuk mendapatkan kepercayaan dari jajarannya, maka ia harus dapat memberikan solusi atas setiap permasalahan penerapan akreditasi. Untuk itu pimpinan harus mempunyai semangat belajar melebihi semua. Pimpinan harus menterjemahkan konsep akreditasi yang abstrak menjadi kebijakan kongkrit. Sekaligus memetakan dan menjadwalkan kegiatan-kegiatan menuju penerapan akreditasi.
Pemahaman tentang administrasi peradilan sangat diperlukan. Memang tugas administrasi sehari-hari dilaksanakan oleh panitera dan sekretaris, tetapi sesungguhnya pimpinan adalah administrator tertinggi. Pemahaman tentang administrasi diperlukan berkelindan dengan kemampuan manajerial. Dua hal itu akan berguna dalam proses menuju penerapan akreditasi.
Penutup
Langkah menuju penerapan akreditasi harus dimulai dari komitmen bersama pimpinan, hakim dan seluruh pegawai. Membangun komitmen bersama dapat dimulai dengan memberikan semangat dan motivasi, kemudian menanamkan nilai-nilai tentang pentingnya pemenuhan kewajiban dan jiwa pengabdian.
Selebihnya tinggal melaksanakan tugas-tugas administrasi sesuai buku II, melaksanakan semua ketentuan Mahkamah Agung tentang penyelenggaraan peradilan, menerapkan konsep 5 R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin) dan 3 S (senyum, salam, sapa) serta melaksanakan program-program reformasi birokrasi dan pembangunan zona integritas.
Pedomani dan terapkan quote “tulis apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang ditulis”. Untuk memenuhi syarat manajemen mutu ISO, persiapkan diantaranya struktur manajemen mutu, kebijakan mutu, sasaran mutu, manual mutu, instruksi kerja terkait manajemen representatif, standar operasional prosedur, survey kepuasan masyarakat, audit internal, dan tinjauan manajemen.
Akreditasi penjaminan mutu bertujuan mewujudkan performa peradilan yang unggul (prima). Hakekat sesungguhnya merupakan pelaksanaan reformasi birokrasi, sehingga tiga sasaran utama reformasi birokrasi harus terwujud, yaitu organisasi yang bersih KKN, peningkatan kapasitas dan akuntabilitas, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Pengalaman penulis, banyak hal yang perlu dikerjakan dan dibenahi untuk menuju akreditasi. Oleh karena itu mempersiapkan akreditasi butuh waktu yang tidak sedikit. Persiapan secara instan mungkin berhasil, tetapi menurut penulis akan gagal merubah budaya kerja (culture set) dan pola pikir (mind set).
RAPAT BULANAN BAGIAN KEPANITERAAN PENGADILAN NEGERI TILAMUTA KELAS II PERIODE BULAN NOVEMBER TAHUN 2016
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II sebagaimana jadwal kegiatan rapat bulanan kepaniteraan, melaksanakan rapat bertempat di ruang rapat Pengadilan Negeri Tilamuta pada hari Rabu tanggal 9 November 2016, yang dipimpin oleh Bapak James Mochtar Masili, S.H., (Wakil Panitera).
Bapak James Mochtar Masili, S.H., membuka rapat dan menyampaikan kepada jajaran kepaniteraan, salah satu bentuk pelaksanaan peningkatan kinerja kepaniteraan adalah tiap-tiap bagian kepaniteraan harus memberikan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas kepaniteraannya, apakah sudah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan yang berlaku secara berdayaguna dan berhasil guna, sehingga dengan laporan pertanggungjawaban tersebut, kepaniteraan mampu mengidentifikasi dan menganalisa gejala-gejala dan penyimpangan yang terjadi serta menentukan sebab dan akibatnya serta cara mengatasinya yang dapat ditindaklanjuti secara bersama-sama.
Ibu Nurbaeti Pasue, S.H., (Panitera Muda Pidana) yang mendapatkan kesempatan pertama memaparkan pelaksanaan tugasnya menyampaikan, untuk meningkatkan pelayanan terkait pelayanan inovasi one hour service tentang surat ijin besuk dari Majelis Hakim/Hakim, agar pemohon ijin besuk langsung mengisi formulir ijin besuk yang disediakan oleh kepaniteraan pidana melalui loket pidana dan petugas loket pidana menyerahkan formulir tersebut kepada Panitera Pengganti terkait untuk membuat surat ijin besuk sesuai form Surat Ijin Besuk untuk ditandatangani oleh Majelis Hakim/Hakim, selanjutnya Panitera Pengganti menyerahkan Surat Ijin besuk tersebut kepada petugas loket pidana untuk diserahkan kepada pemohon ijin besuk. Hal tersebut sebagai upaya menciptakan sistem pengurusan satu pintu yang cepat, sederhana dan berhasilguna.
Bapak Suwandi Kau, S.H., (Panitera Muda Perdata) yang mendapatkan kesempatan kedua memaparkan pelaksanaan tugasnya menyampaikan, dengan melihat banyaknya permohonan permintaan ijin besuk perlu dibuatkan mekanisme pelaksanaan apakah berupa Instruksi Kerja, SOP atau surat keputusan sebagai petunjuk manajemen. Hal tersebut sebagai upaya menciptakan sistem manajemen kerja yang terukur.
Bapak Rahmat Sadie, S.H., (Panitera Muda Hukum) yang mendapatkan kesempatan ketiga memaparkan pelaksanaan tugasnya menyampaikan, sebagai pejabat yang bertanggungjawab terhadap administrasi dan pendokumentasian berkas pengaduan mengusulkan agar petugas meja pengaduan dalam melaksanakan tugasnya, perlengkapan berupa komputer dan perangkatnya agar diperbaharui. Hal tersebut sebagai upaya peningkatan pelayanan kepada pengadu/whistleblower.
Dari pemaparan-pemaparan yang disampaikan para Panitera Muda, Bapak James Mochtar Masili, S.H., menyimpulkan pelaksanaan tugas kepaniteraan sudah berjalan dengan sangat baik dan sesuai sistem dan akan melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II Bapak Hasanudin, S.H.,M.H., pencapaian pelaksanaan hasil kerja kepaniteraan tersebut dan akan melaporkan juga segala usulan kepaniteraan sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan yang akan ditindaklanjuti di rapat umum Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II – Juru bicara Pengadilan Negeri Tilamuta Irwanto, S.H.-
MENINGKATKAN STANDAR MANAJEMEN PERADILAN YANG HANDAL MELALUI AKREDITASI DITJEN BADILUM
Oleh : Irwanto, S.H. (Juru bicara Pengadilan Negeri Tilamuta)
“Adalah sesuatu yang khayal melakukan manajemen perubahan hanya dilakukan oleh pemimpin saja, Pemimpin saja bersama aparaturnya tidak cukup melakukan manajemen perubahan tanpa adanya tekad, komitmen, kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan, namun adalah sesuatu yang nyata melakukan manajemen perubahan bersama pemimpin dan aparaturnya dengan tekad, komitmen, kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan”.
Akreditasi (accreditation) dalam arti sempit adalah mendapat pengakuan/penilaian dari lembaga yang berwenang, atau secara umum dikenal dikalangan masyarakat/masyarakat international adalah Standar Sertifikasi ISO 9001:2008 yaitu standar internasional dibidang sistem manajemen mutu dalam suatu organisasi.
Ditjen Badilum dengan mengacu pada Standar Sertifikasi ISO 9001:2008 telah menggagas Sistem Akreditasi Badan Peradilan Umum dengan membentuk Tim Akreditasi Internal untuk melakukan audit pada pengadilan-pengadilan di bawah Badan Peradilan Umum yang akan mengajukan akreditasi/Sertifikasi ISO 9001:2008 dengan bekerjasama dengan perusahaan penyedia sertifikasi ISO. Namun banyak pengadilan/Pejabat pengadilan/Aparatur pengadilan masih awam tentang Sistem Akreditasi/Standar Sertifikasi ISO 9001:2008, sehingga berpendapat akreditasi adalah sebagai suatu hal yang baru dan bahkan dikalangan pejabat pengadilan cukup membingungkan dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang akreditasi itu apa?, bagaimana cara mempersiapkannya?, memulainya dari mana?, konsepnya seperti apa? dan berapa biaya yang harus disiapkan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar karena gagasan sistem akreditasi dilatar belakangi oleh adanya Sertifikasi Manajemen Mutu ISO 9001:2008 oleh lembaga penilai independen melalui audit penjaminan mutu sesuai standar internasional oleh beberapa pengadilan dengan menggunakan anggaran swadaya.
Penilaian terhadap mutu manajemen pada Mahkamah Agung khususnya Badan Peradilan Umum pada pengadilan tingkat pertama telah dilakukan secara berjenjang dimana Pengadilan Tinggi melakukan pengawasan dan pembinaan 2 kali dalam setahun, dengan memberikan penghargaan terhadap pengadilan dengan sistem administrasi terbaik, dan melaporkannya ke Badan Peradilan Umum serta Ke Mahkamah Agung. Penilaian oleh lembaga sendiri pada saat ini dirasa tidak cukup namun juga membutuhkan pengakuan dari lembaga lain seperti pengakuan dari lembaga penilai independen sesuai standar internasional, karena Badan Peradilan dewasa ini khususnya Badan Peradilan Umum terus diuji oleh banyaknya laporan–laporan masyarakat tentang ketidakpercayaan terhadap pengadilan, ketidakpercayaan terhadap hakim dalam memutus suatu perkara ditambah panjangnya birokrasi-birokrasi yang harus dilalui oleh pencari keadilan dalam mencari keadilan dalam perkaranya.
Ketidak percayaan masyarakat, ketakutan masyarakat khususnya pada masyarakat level menengah ke bawah berhubungan dengan pengadilan sangat dirasakan, mulai dari hal-hal terkecil ketika masyarakat ingin mendapatkan informasi, akan memilih datang ke instansi lain atau pihak lain dari pada ke pengadilan itu sendiri, meskipun informasi itu seyogyanya datang dari pengadilan sehingga masyarakat tersebut mendapatkan informasi yang tidak lengkap, tidak akurat dan bahkan bertentangan dengan keadaan-keadaan sebenarnya sehingga memunculkan stigma yang makin buruk terhadap kenerja pengadilan.
Keadaan seperti ini tentulah sangat dilematis jika pandangan masyarakat khususnya masyarakat pencari keadilan, terkhusus lagi masyarakat menengah ke bawah jika pola pikir/maindset mereka bahwa hukum/pengadilan tajam ke bawah, tidak berpihak pada mereka maka kepercayaan pengadilan semakin tergerus. Tentunya pola pikir/maindset masyarakat, pendapat-pendapat tokoh masyarakat dengan segala opininya harus dijadikan kritikan yang membangun untuk segera melakukan perubahan yang sifatnya aktif yang langsung dapat diakses masyarakat, meningkatkan layanan-layanan informasi masyarakat yang ramah dan santun dengan penyediakan petugas layanan informasi yang selalu siap membantu masyarakat pencari keadilan, memberikan informasi hukum tentang fakta pengadilan yang terukur melalui Jurubicara pengadilan adalah merupakan bentuk manajemen perubahan yang memihak kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat menilai pengadilan, “bahwa pengadilan sudah sangat terbuka, ibaratnya rumah kaca yang didalamnya memperlihatkan cara kerja yang transparan, tidak memihak, dan tidak mudah diintervensi dengan mengedepankan prinsip equal.
Pada contoh di atas di Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II telah berkomitmen melakukan manajemen perubahan dengan menetapkan dan melaksanakan pelayanan Standar Akreditasi Penjaminan Mutu Peradilan Umum – Indonesian Court Performance Excelence/ICPE. Komitmen tersebut dimulai dengan melakukan perubahan-perubahan pelayanan publik yang ramah dan santun kemudian melakukan perubahan peningkatan layanan pada sistem administrasi manajemen dan teknis administrasi manajemen.
Dahulu Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II memiliki kantor dengan kesan tidak bersih dan kotor, sampah-sampah plastik, puntung rokok tampak dimana-mana, toilet-toilet tidak diurus dengan bersih dan terkadang bau, ruangan-ruangan tidak ditata dengan rapi, taman terkesan diurus seadanya dengan rumput tinggi dan taman lainnya tidak terurus bahkan terkesan tidak tersentuh, parkiran tidak diatur dan kelihatan tidak beraturan, tehnik administrasi persidangan disebahagian besar perkara berjalan tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, dimana panitera pengganti terlambat menyerahkan berita acara persidangan akibatnya ke putusan Hakim dan minutasi perkara menjadi tunggakan pada sistem SIPP. Contoh-contoh tersebut terjadi dahulu dan sekarang Kantor Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II kelihatan tampak bersih dan rapi, gedung kantornya tidak mewah namun kelihatan terawat dengan taman-taman yang hijau dan asri, suara burung peliharaan yang digantung tersusun rapi, ruangan-ruangan tertata rapi dengan penunjuk-penunjuk arah, toilet-toilet tampak bersih dan harum, sistem tehnik administrasi persidangan berjalan sesuai ketentuan sehingga ketaatan dan kepatuhan pengimputan SIPP dengan persentase di atas rata-rata, parkiran diatur dengan sangat baik dimana petugas pelayanan siap membantu sesuai kebutuhan masyarakat dan beberapa inovasi-inovasi layanan yang merupakan inovasi andalan Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II.
Pencapaian tersebut merupakan komitmen dalam melakukan manajemen perubahan yang bukanlah hal mudah dan tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh pengorbanan yang cukup besar baik pemikiran, tenaga dan biaya atau dengan kata lain jika diukur dengan uang ataupun materi akan sangat mahal dan bahkan akan menimbulkan pertanyaan dalam tanda kutip, dari mana perolehan uang dalam melakukan perubahan itu?
Prinsip kerja Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II adalah “bekerja bersama-sama, sama-sama bekerja”, Ketua dan wakil serta Hakim turun ke bawah bekerja bersama-sama dengan memaksimalkan keahlian tiap-tiap pegawai dan tenaga honorer sehingga betul pendapat akreditasi/Sertifikasi ISO 9001:2015 adalah mahal karena pemikiran, keahlian dan tenaga cukup besar yang disumbangkan oleh segenap Hakim, Aparatur dan Tenaga Honorer, tidak bisa dinilai dengan materi/uang/mahal, tapi hasilnya dapat dihitung bahwa kesemuanya adalah hasil kerja keras dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat pencari keadlian.
Dengan ditetapkannya sistem Manajemen mutu Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II pada tanggal 8 Agustus 2016, sangat dirasakan manfaatnya, karena sistem manajemen langsung berjalan dengan sangat baik, masyarakat pencari keadilan tidak ragu lagi datang meminta informasi kepada pegadilan dan bahkan masyarakat pencari keadilan memuji layanan-layanan publik yang disediakan dan menyatakan puas dengan sistem administrasi pada Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II .
Sistem Akreditasi yang digagas Ditjen Badilum adalah merupakan suatu pola manajemen perubahan yang handal yang sepatutnya pengadilan-pengadilan di bawah Ditjen Badilum ikut berpartisipasi dengan mengajukan dan menetapkan diri melakukan manajemen perubahan melalui Sistem Manajemen Mutu karena melalui Sistem Akreditasi maka terwujudnya Badan Peradilan yang Agung dimulai hari ini.
MENGUBAH INOVASI LAYANAN MENJADI LAYANAN BERBASIS INFORMASI TEKNOLOGI
Oleh : Irwanto, S,H. (Juru bicara Pengadilan Negeri Tilamuta)
Terakreditasi dengan nilai A excellent dan meraih penghargaan Sertifikasi ISO 9001:2015, Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II dituntut harus lebih mampu mempertahankan hasil dan nilai yang didapat. Tuntutan ini muncul karena Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II dengan sendirinya menjadi pengadilan negeri percontohan atau rujukan bagi pengadilan negeri lain di bawah Mahkamah Agung.
Adalah menjadi tantangan sebagai pengadilan negeri percontohan atau rujukan yang dilihat dari letak geografisnya berada di wilayah pedalaman, namun mampu memberikan hasil dan nilai A excellent dan juga menjadi terbaik ke-dua dalam mengelola website.
Pencapaian ini menjadi dasar bagi Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II untuk lebih meningkatkan pelayanan publik, menciptakan ide-ide pelayanan yang berkualitas, menciptakan inovasi layanan berbasis informasi teknologi. Dan Inovasi informasi teknologi ini adalah merupakan inovasi yang wajib pada saat ini untuk memberi ruang akses yang lebih mudah bagi pencari keadilan dan pengguna informasi pada pengadilan.
Pendapat ini muncul, setelah penulis mengamati adanya semangat dari para Hakim Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II untuk lebih berpartisipasi memberikan layanan berbasis informasi teknologi dengan membuka Forum Diskusi Hakim dengan tema “Inovasi layanan berbasis informasi teknologi” yang memunculkan banyak ide-ide brilian berbasis informasi teknologi.
Bahkan untuk menindaklanjuti ide-ide tersebut telah dibentuk Tim Penanganan Inovasi Layanan Berbasis Informasi Teknologi yang akan menelaah dan menindaklanjuti ide-ide menjadi layanan inovasi informasi teknologi sebagai inovasi andalan berikutnya oleh Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II.
Itulah sebabnya Forum Diskusi Hakim Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II yang membahas tentang hukum, permasalahan hukum dan perkembangan hukum bergeser bukan lagi membahas tentang hukum semata tetapi juga membahas tentang teknis dan administrasi pada kepaniteraan dan kesekretariatan serta inovasi layanan.
Hal ini didasarkan pada tupoksi hakim bukan lagi hanya menerima dan memutus perkara tetapi wajib mengetahui perkembangan teknologi sehingga mampu berperan dalam hukum dan teknologi terutama memberikan layanan hukum kepada masyarakat berbasis informasi teknologi. Ide-ide yang diciptakan nantinya bukan hanya sebagai layanan kepada masyarakat yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun tetapi juga sebagai sarana kontrol oleh Ketua/Hakim atau atasan langsung tiap-tiap bagian terhadap tupoksinya.
Ini berarti pencapaian oleh Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II bukan sebagai titik akhir dalam berkarya namun sebagai awal untuk menciptakan karya-karya baru yang lebih inovatif berbasis informasi teknologi yang kini sedang dipersiapkan untuk mewujudkan pemberian layanan yang lebih mudah yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat pencari keadilan atau pengguna informasi..
Tilamuta, 8 November 2016,
Hormat Kami
PENGUCAPAN SUMPAH JABATAN ANGGOTA BADAN PEMERIKSAAN KEUANGAN PERIODE 2016-2021 DI MAHKMAH AGUNG
JAKARTA-HUMAS, Prof. Dr. Bahrullah Akbar. M.B.A., C.M.P. mengucapkan sumpah sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan periode 2016-2021, dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung [rof. Dr. M.Hatta Ali, SH., MH pada Selasa ,8 November 2016. Pengucapan sumpah jabatan ini dilakukan sesuai dengan Pasal 16 ayat (1) UU No.15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
Sumber : Mahkamah Agung RI
SOSIALISASI APLIKASI SIWAS MAHKAMAH AGUNG RI. SEWILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI GORONTALO
Pengadilan Tinggi Gorontalo dalam rangka diterapkannya Sistem Aplikasi Siwas, mengadakan sosialisasi Aplikasi Siwas Mahkamah Agung RI. Se-Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Gorontalo, bertempat di Kantor Pengadilan Tinggi Gorontalo pada hari Kamis tanggal 3 November 2016, dengan tema “Pengenalan Aplikasi Siwas”, oleh pemateri Ibu Sri Herawati, S.H.,M.H., (Hakim Tinggi).
Bapak H. Zainuri, S.H., sebagai Plt. Ketua Pengadilan Tinggi Gorontalo membuka acara sosialisasi Aplikasi Siwas dan menyampaikan kepada para undangan, acara sosialisasi ini sebagai bentuk tindak lanjut diadakannya pelatihan Aplikasi Siwas oleh Badan Pengawasan Mahkamah Agung yang dihadiri oleh Ibu Sri Herawati, S.H.,M.H., (Hakim Tinggi) dan selanjutnya untuk disosialisakan melalui Pengadilan Tinggi pada pengadilan-pengadilan di wilayah hukumnya masing-masing.
Ibu Sri Herawati, S.H.,M.H., (Hakim Tinggi) dalam pemaparannya, pada prinsipnya berdasarkan Perma Nomor 9. Tahun 2016 Tentang Sistem Penanganan Pengaduan (WHISTEL BLOWING SYSTEM), adalah kewenangan Badan Pengawasan Mahkamah Agung yang dapat didelegasikan pada pengadilan tingkat banding dan pada pengadilan tingkat pertama serta Pengadu adalah setiap orang yang mengungkapkan dugaan pelanggaran, ketidakjujuran, pelanggaran terhadap kode etik dan pedoman perilaku Hakim, kode etik dan pedoman perilaku Panitera dan Jurusita, kode etik dan pedoman perilaku ASN, pelanggaran hukum acara, pelanggaran terhadap disiplin PNS atau peraturan disiplin meliter, maladministrasi dan pelayanan publik serta pelanggaran pengelolaan keuangan dan barang milik negara pada Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya.
Pengaduan yang diterima oleh petugas meja pengaduan diberikan nomor rigister melalui Aplikasi Siwas Mahkamah Agung dan nomor register pelapor/pengadu digunakan sebagai identitas pelapor yang hanya dapat diketahui oleh petugas meja pengaduan dan Ketua Pengadilan Tingkat Banding, karena penanganan pengaduan dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip, salah satunya prinsip kerahasian yang merupakan sikap kehati-hatian dalam penanganan pengaduan dengan menjaga kerahasiaan identitas pelapor dan kerahasiaan materi pelaporan, termasuk surat menyurat dan berkas penanganan pengaduan sampai dengan adanya keputusan terbukti atau tidaknya suatu pengaduan sebagai upaya perlindungan terhadap pelapor/pengadu.
Selanjutnya pemateri memaparkan tatacara penggunaan Aplikasi Siwas mulai dari login Aplikasi Siwas ke situs Mahkamah Agung, memasukkan identitas pelapor dan materi pelaporan sampai dengan teregisternya pelapor pada Aplikasi Siwas yang nantinya penerapan Aplikasi Siwas Mahkamah Agung akan ditinjau setelah 3 bulan kemudian oleh Pengadilan Tingkat Banding.
Bapak Irwanto S.H., yang mewakili Ketua Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II bersama Bapak Rahmat Sadie, S.H., (Panmud Hukum), Bapak Candra Arris Saputra, S.kom (Tenaga IT), Ibu Olan Taguge, S.H., (Petugas Meja Pengaduan) telah melaporkan hasil sosialisasi kepada Ketua Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II Bapak Hasanudin, S.H.,M.H., dan akan mengkoordinasikan penerapan Aplikasi Siwas kepada seluruh Hakim dan Aparatur pengadilan pada Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II untuk merespon pengaduan baik yang berasal dari masyarakat, instansi lain diluar pengadilan maupun dari internal pengadilan sebagai bentuk layanan pada pelayanan meja pengaduan Pengadilan Negeri Tilamuta Kelas II. – Juru bicara Pengadilan Negeri Tilamuta Irwanto, S.H.-
Tilamuta, 8 November 2016,
Hormat Kami



































